Yudi Latif: Tanpa Pancasila, Indonesia Akan Disorientasi

Yudi Latif: Tanpa Pancasila, Indonesia Akan Disorientasi

Jakarta – Ketua Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latif menemui 50 pemuda dari seluruh daerah di Indonesia yang merupakan peserta Kader Bangsa Fellowship Program (KBFP) Angkatan VI. Kepada para pemimpin-pemimpin muda itu, Yudi mengajarkan bagaimana cara menghayati, memahami dan mengamalkan Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Yudi menguraikan, sebelum Indonesia merdeka, semua mozaik, warna kulit, beragam ras, etnis, sudah hadir di Indonesia. Sebagai bangsa yang multikultural, bangsa yang majemuk, Indonesia membutuhkan alat pemersatu.

“Indonesia dengan perbedaan agama, ras, manusia, budaya, suku, sampai kapanpun tidak akan bisa diselesaikan persoalannya dengan disamakan penyebutnya. Maka kemudian seluruh keragaman ini adalah milik Indonesia. Nilai-nilai yang menyatukan seluruh keragaman itu namanya Pancasila,” kata Yudi di Yello Hotel, Jakarta, Jumat (4/8).

Yudi melanjutkan, setiap sila pada Pancasila menggambarkan kehidupan bangsa Indonesia yang kompleks. Pancasila, merupakan titik temu, titik pijak, sekaligus titik tuju dalam setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika warna-warna Indonesia tidak memiliki alat pemersatu, Yudi menegaskan maka masa depan bangsa Indonesia menjadi kabur dan tidak jelas arah dan tujuannya.

“Maka tanpa Pancasila Indonesia itu mengalami disorientasi habis-habisan. Titik tuju kita berdasarkan semangat Pancasila. Kemana bangsa ini diarahkan,” tegas Yudi.

Turunan-turunan sila Pancasila kemudian termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945. Yudi memberikan nasehat bahwa pemuda Indonesia harus memahami betul visi dan misi negara Indonesia yang tertuang dalam UUD 1945 yakni menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

“Banyak antara kita tidak memahami, visi itu diturunkan dari sila-sila Pancasila,” ungkap Yudi.

Kata “Merdeka” misalnya, diturunkan dari sila pertama dan kedua Pancasila, yakni Tuhan dan Kemanusiaan. Di mata Tuhan seluruh manusia itu sama yaitu pribadi yang merdeka serta bangsa yang merdeka. Di mata Tuhan juga, manusia itu setara. Begitu juga dengan kata “bersatu” yang merupakan turunan dari sila ketiga, “berdaulat” turunan dari sila keempat dan “adil dan makmur” merupakan turunan dari sila kelima Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat.

No Comments

Post A Comment