Caleg Muda Harus Paham Ekonomi dan Miliki Modal Seperti Pemain Film

Caleg Muda Harus Paham Ekonomi dan Miliki Modal Seperti Pemain Film

JAKARTA – Setiap pemimpin di Indonesia tentunya berharap ekonomi Tanah Air mampu berkembang dan maju ke depannya dan pertumbuhan ekonomi merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh setiap negara demi kesejahteraan masyarakat.

Ini dikatakan Deputi Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Ekonomi Strategis Kantor Staf Presiden, Dr Denni Puspa Purbasari.

“Untuk itu kami berharap para calon legislatif (caleg) muda mengerti dan paham soal ekonomi Indonesia,” kata Denni di hadapan peserta KBFP 8, yang mengusung tema “Pemahaman Kebijakan dan Tantangan Ekonomi Indonesia dari Daerah Sampai Nasional,” di Jakarta Rabu (3/10/2018).

Denni menyinggung pentingnya pembangunan infrastruktur untuk mempercepat pemerataan ekonomi.

Infrastruktur akan meningkatkan kualitas hidup, mendorong ekonomi daerah, dan mengurangi biaya logistik.

Pembangunan infrastruktur akan menumbuhkan kawasan ekonomi baru.

“Nasionalisme dan jadi negara maju itu ada costnya. Jadi kita memperkokoh rumah kita ini. Kita harus peduli dengan rakyat jadi spiritnya adalah itu,” ujarnya menegaskan.

Sobar Budiman selaku anggota Dewan Kesenian Jakarta-Komite Teater di sesi “Dialog Pemimpin Muda”, memaparkan para caleg muda harus memiliki modal yang kuat.

Mirip seorang aktor di sebuah film, modal itu terdiri dari tiga unsur. Unsur luar terdiri dari suara, dalam yaitu tubuh, dan pengetahuan (intelegensi) yang cukup.

“Suara itu terdiri dari intonasi, artikulasi, dan power. Suara itu juga harus lentur. Bicara strategis ya, jelas dan tidak cacat. Intonasi ditentukan oleh tanda baca. Hati-hati dengan tanda baca jangan sampai disalahartikan oleh masyarakat,” jelas Sobar.

“Seorang aktor itu harus seperti tanah liat. Harus lentur seperti tanah liat. Anggota legislatif harus lentur. Aktor itu harus bisa memainkan apa saja. Dalam membuat patung harus dibanting-banting dulu. Maksudnya itu dilatih. Ada tukang sapu di jalan kita melihat dan merasakannya,” urainya melanjutkan.

Selain ketiga unsur tersebut, masih dari penjelasan Sobar, seorang caleg juga harus mempunyai rasa ekspresi, jujur, ikhlas, dan mampu bekerja sama.

“Lalu konsentrasi. Fokus terhadap satu masalah. Memusatkan pikiran. Selain itu juga aktor dan caleg juga harus punya dorongan,” tuturnya.

Sementara itu sejarawan dan oendiri Komunitas Bambu, JJ Rizal menegaskan, pemimpin muda khususnya para caleg harus meniru para pendiri bangsa ini untuk berpikir rasional. Ia mengkritisi, gaya hidup generasi muda khususnya milenial yang terkait pergaulan dengan buku sangat kurang.

“Hari ini kita mengalami kesuraman. Karena pemudanya bermasalah. Problem kita adalah gagalnya transfer pengetahuan. Padahal para pendiri bangsa ini mayoritas berpikir rasional dan mereka punya cerita dengan buku,” kata JJ Rizal dalam dialog ‘Anak Muda dan Sejarah Politik Indonesia: Pesan untuk Caleg Muda’, menutup pembicaraan.

Anggota DPR RI Komisi I, Dave Laksono menegaskan, seorang legislator itu merupakan kepanjangan tangan rakyat. Maka setelah duduk di parlemen, anggota DPR tidak hanya sebagai elite partai tertentu saja. Tugas legislator adalah mengabdi kepada rakyat.

“Kita adalah penyambung lidah rakyat itu yang harus dipahami dan diikatkan. Kita harus berbuat untuk rakyat. Tidak hanya kiasan saja. Namun juga sebagai pedoman untuk rakyat,” ujar Dave, dalam sesi dialog ‘Jadi anggota Dewan yang Keren: Pegantar Tugas Legislator’.

Lanjut Dave, kinerja legislator ini diukur dari produk yang dihasilkan. Semakin banyak produk legislasi yang dibuat maka semakin berhasil DPR dan DPRD tersebut. Ia kembali mengungkapkan, hingga bulan Agustus 2018, DPR RI sendiri sudah membuat 26 undang-undang.

Anggota DPR RI Komisi VIII, Diah Pitaloka menambahkan dengan melihat sisi berbeda dari politik yaitu pemilu.

Kata Diah, pemilu itu sangat menarik karena mirip dengan permainan (games) 3 dimensi. Yaitu membangun demokrasi untuk kebahagiaan semua orang.

No Comments

Post A Comment